USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.920, Tekanan Inflasi AS Belum Reda

  • Kurs Rupiah melemah 0,14% ke Rp17.920 per USD pada Kamis, setelah USD/IDR sempat menyentuh Rp17.950 menjelang penutupan pasar domestik.
  • Lonjakan inflasi AS kembali menekan Rupiah, sementara BI mempertahankan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
  • IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 5,1%, tetapi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan dan tingginya harga minyak masih membayangi.

Rupiah Indonesia (IDR) kembali kehilangan tenaga terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Tertekan oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda melemah 25 poin atau 0,14% ke Rp17.920 per USD, melanjutkan penurunan dari penutupan Rabu di Rp17.895. Tekanan terhadap Rupiah sempat membesar hingga membawa USD/IDR menyentuh level tertinggi harian Rp17.950 menjelang penutupan pasar domestik, sebelum pasangan mata uang tersebut memangkas sebagian kenaikannya.

Meski Dolar AS dan harga minyak global mulai terkoreksi, Rupiah masih kesulitan bangkit di tengah kekhawatiran terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed). Bank Indonesia (BI) terus berupaya membendung gejolak melalui intervensi pasar, sementara revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF memberikan sinyal yang lebih optimistis, meski risiko eksternal masih membayangi.

BI Jaga Stabilitas Rupiah, IMF Bawa Optimisme dan Peringatan

Kenaikan inflasi AS yang melampaui prakiraan kembali membayangi Rupiah dengan meningkatnya risiko arus modal keluar dari negara berkembang. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menegaskan intervensi tetap dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September turut menopang upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar.

Kabar positif datang dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia pada 2026 menjadi 5,1% dari 5,0%. Namun, laporan World Economic Outlook Oktober 2026 juga memperingatkan defisit transaksi berjalan berpotensi melebar menjadi 1,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini, sebelum menyusut ke 1,0% pada 2027. Kontras ini memperlihatkan bahwa prospek pertumbuhan domestik membaik, tetapi meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal masih membuat Rupiah rentan terhadap gejolak arus modal dan harga energi.

Lonjakan harga energi mulai menguji daya tahan APBN, terutama melalui risiko membengkaknya beban subsidi. Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Suahasil Nazara kembali menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap PDB. Pesan disiplin fiskal yang disampaikan kepada investor global di Bangkok itu menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya mempertahankan kredibilitas anggaran dan kepercayaan pasar, meski tekanan energi belum sepenuhnya mereda.

Dolar AS Kehilangan Momentum, Minyak Turun tetapi Risiko Bertahan

Dolar AS kehilangan sebagian penguatannya setelah inflasi AS September melonjak ke 3,7% secara tahunan dari 3,4%, melampaui prakiraan 3,6% dan kembali memanaskan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, komentar bernada hati-hati dari Michelle Bowman dan Mary Daly membantu meredakan kekhawatiran pasar. Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi sekitar 0,47% ke 102, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 5,09%. Pelemahan Dolar tersebut belum cukup untuk membalikkan arah Rupiah.

Brent yang terkoreksi 2,2% ke US$103,89 per barel setidaknya memberi sedikit ruang bernapas bagi Indonesia di tengah tingginya beban impor energi. Namun, kelegaan tersebut masih dibayangi ancaman gangguan pasokan di Selat Hormuz, membuat pasar tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga berikutnya. IMF bahkan memperingatkan pertumbuhan ekonomi Asia berisiko melambat dari 4,8% pada 2026 menjadi 4,4% pada 2027, di tengah tekanan harga energi dan tingginya imbal hasil obligasi global.

Pasar selanjutnya menunggu data Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) dan Penjualan Ritel AS pada Kamis malam, disusul pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan IMF–Bank Dunia di Bangkok pada Jumat (16/10). Kombinasi data ekonomi dan sinyal kebijakan tersebut akan menentukan apakah Dolar AS kembali menguat dan menekan Rupiah, atau justru memberi kesempatan bagi mata uang Garuda untuk memangkas pelemahannya menjelang akhir pekan.

USD/IDR Cari Celah Naik, Resistance 18.000 jadi Ujian

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan USD/IDR mulai menguji batas atas konsolidasi setelah sempat menembus resistance 17.932 (tertinggi 2 Oktober) dan menyentuh 17.950. Namun, penutupan di 17.920 menandakan penguatan belum bertahan. Jika mampu melewati 17.950, USD/IDR berpeluang menuju area psikologis 18.000, yang berdekatan dengan garis tren menurun dan batas atas Bollinger Band, sebelum menguji 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) naik ke 57,82 dari 54,35, menunjukkan momentum kenaikan menguat tanpa memasuki wilayah overbought.

Sebaliknya, kegagalan menembus kembali 17.932 berpotensi menyeret USD/IDR menuju garis tengah Bollinger Band di 17.890, disusul support 17.860 (terendah 30 September) dan 17.795 (terendah 23 September). Jika tekanan jual meningkat, penurunan dapat berlanjut ke batas bawah Bollinger Band di 17.779 dan MA 100 hari di 17.754. Selama 18.000 belum ditembus secara meyakinkan, pergerakan sideways masih membayangi meski momentum kenaikan mulai menguat.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Okt 15, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.3%

Sebelumnya: 5.4%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Harga Perak Hari ini: Perak Naik, Menurut Data FXStreet

Harga Perak (XAG/USD) naik pada hari Kamis, menurut data FXStreet. Perak diperdagangkan di US$56,71 per troy ons, naik 1,94% dari US$55,64 pada hari Rabu.
Mehr darüber lesen Previous

Euro memperpanjang pembalikan terhadap Pound Inggris di tengah Produksi Industri Zona Euro yang suram

Euro (EUR) semakin turun dari level tertinggi sesi terhadap Pound Inggris (GBP) pada hari Kamis, karena Produksi Industri Zona Euro meleset dari ekspektasi, sementara angka Produk Domestik Bruto (PDB) bulanan Inggris memberikan kejutan positif.
Mehr darüber lesen Next