Emas Antam 24 September: Anjlok Rp25.000 ke Rp2,605 Juta per Gram, Emas Dunia di Bawah US$4.300
- Harga emas Antam turun Rp25.000 atau 0,95% menjadi Rp2.605.000 per gram pada Kamis, 24 September 2026, setelah menguat Rp3.000 pada perdagangan sebelumnya.
- Emas batangan ukuran 5 gram kini dibanderol Rp12.800.000, sedangkan pecahan 10 gram dijual seharga Rp25.545.000, sebelum pajak pembelian.
- Emas dunia (XAU/USD) turun ke sekitar US$4.290 per ons ons akibat penguatan Dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan The Fed.
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) berbalik turun tajam pada Kamis, 24 September 2026, setelah sempat menguat sehari sebelumnya. Berdasarkan pembaruan harga Logam Mulia pukul 08.30 WIB, emas Antam kini dijual seharga Rp2.605.000 per gram, merosot Rp25.000 atau 0,95% dari harga Rabu sebesar Rp2.630.000. Penurunan ini terjadi ketika emas dunia kembali tertekan di bawah US$4.300 per ons troy akibat penguatan Dolar AS dan prospek pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Harga Emas Antam Hari Ini Berdasarkan Ukuran
Koreksi harga turut terjadi pada seluruh ukuran emas batangan Antam. Pecahan 0,5 gram kini dijual seharga Rp1.352.500, sementara ukuran 2 gram dan 3 gram masing-masing dibanderol Rp5.150.000 dan Rp7.700.000. Untuk pecahan yang lebih besar, harga emas ukuran 5 gram tercatat Rp12.800.000, sedangkan ukuran 10 gram mencapai Rp25.545.000.
Berikut perincian harga emas Antam pada Kamis, 24 September 2026, berdasarkan data Logam Mulia:
Berat | Harga Dasar | Harga + PPh 0,25% |
|---|---|---|
0,5 gram | Rp1.352.500 | Rp1.355.881 |
1 gram | Rp2.605.000 | Rp2.611.513 |
2 gram | Rp5.150.000 | Rp5.162.875 |
3 gram | Rp7.700.000 | Rp7.719.250 |
5 gram | Rp12.800.000 | Rp12.832.000 |
10 gram | Rp25.545.000 | Rp25.608.863 |
Penurunan terbaru membawa harga emas Antam semakin jauh dari level tertingginya pada Agustus. Berdasarkan grafik harga Logam Mulia, emas batangan ukuran 1 gram sempat mencapai Rp2.768.000 pada 25 Agustus. Dengan harga saat ini, emas Antam telah kehilangan Rp163.000 per gram atau sekitar 5,89% dari level tersebut.
Emas Dunia Tertekan oleh Sinyal Hawkish The Fed
Harga emas dunia (XAU/USD) turun ke sekitar US$4.290 per ons troy pada awal perdagangan Asia, Kamis, akibat penguatan Dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan The Fed. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS yang menyoroti risiko inflasi turut menekan logam mulia. Menurut CME FedWatch Tool yang dikutip FXStreet, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi 69,7%, dari 48,7% sepekan sebelumnya.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Namun, permintaan fisik dari Tiongkok masih berpotensi menopang harga. ING mencatat impor emas negara tersebut meningkat 39,3% secara tahunan menjadi 141,7 ton pada Agustus, sementara kepemilikan ETF emas bertambah sekitar 44 ton sepanjang tahun hingga Agustus.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.