USD/IDR: Rupiah Terkoreksi ke Rp17.530, Minyak dan Imbal Hasil AS Batasi Penguatan jelang PPI AS

  • Kurs Rupiah melemah 30 poin ke Rp17.530 per Dolar AS pada Kamis, sementara JISDOR tercatat Rp17.536.
  • Brent bertahan di atas US$100 dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun sekitar 4,85%, sementara Dolar AS masih terbatas.
  • Penjualan Ritel Indonesia Juli tumbuh 1,1% YoY; USD/IDR mendekati support Rp17.500 menjelang IHP (PPI) dan IHK (CPI) AS.

Rupiah Indonesia (IDR) terkoreksi tipis terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, dengan pasar domestik ditutup di Rp17.530, melemah dari Rp17.500 pada Rabu. Di pasar offshore, pasangan mata uang USD/IDR berada di sekitar Rp17.535, sedangkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) tercatat Rp17.536. Tekanan datang dari Brent yang bertahan di atas US$100 per barel dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun sekitar 4,85%, sementara Penjualan Ritel Indonesia yang kembali tumbuh pada Juli serta Dolar AS yang terbatas membantu menahan pelemahan lebih lanjut. Perhatian pasar selanjutnya beralih ke data inflasi AS menjelang keputusan The Fed pekan depan.

Mirae Asset Sekuritas mencatat Rupiah sempat berada di Rp17.511 pada Rabu, posisi terkuat sejak 26 Mei, dan telah menguat sekitar 1,2% sepanjang September. Dengan demikian, pergerakan ke Rp17.530 pada Kamis masih mencerminkan koreksi terbatas setelah penguatan Rupiah dalam beberapa sesi terakhir.

Penjualan Ritel Indonesia Kembali Tumbuh

Dari dalam negeri, BI melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli tumbuh 1,1% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,0% pada Juni. Peningkatan terutama ditopang oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau serta barang lainnya. Secara bulanan, penjualan ritel turun tipis 0,1% setelah normalisasi permintaan pascalibur dan Hari Besar Keagamaan Nasional.

BI juga memprakirakan penjualan eceran Agustus tetap tumbuh 0,5% YoY, terutama ditopang suku cadang dan aksesori serta makanan, minuman dan tembakau. Perbaikan konsumsi domestik tersebut memberikan latar yang relatif positif bagi Rupiah, tetapi perhatian pasar dalam jangka pendek masih didominasi perkembangan harga minyak, imbal hasil AS, dan data inflasi Amerika Serikat.

Minyak dan Imbal Hasil AS Tetap Menjadi Risiko

Harga Brent bertahan di atas US$100 per barel setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan serangan terhadap jalur pelayaran kembali memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di sekitar 4,85%, level tertinggi sejak November 2023, setelah pasar merespons terbatas rencana Departemen Keuangan AS untuk melakukan buyback obligasi jangka panjang hingga US$6 miliar. Skala pembelian tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan tekanan di pasar obligasi. Kombinasi minyak yang mahal dan imbal hasil AS yang tinggi tetap membatasi ruang penguatan Rupiah.

Namun, Dolar AS belum memperoleh dorongan kuat dari kondisi tersebut. Pasar masih menunggu Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) AS pada Kamis dan Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) pada Jumat untuk menilai arah inflasi sebelum pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan. Pelaku pasar memperhitungkan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga, meski survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom masih memprakirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.

USD/IDR Dekati Support Rp17.500

Secara teknis, USD/IDR masih menunjukkan bias bearish pada grafik harian, dengan posisi sekitar Rp17.535 berada di bawah garis tengah Bollinger Band sekitar Rp17.710 dan Moving Average (MA) 100 periode di sekitar Rp17.688. Harga juga telah mendekati batas bawah Bollinger Band di sekitar Rp17.525, sementara Relative Strength Index (RSI) berada di 31,82, mendekati wilayah jenuh jual. Kondisi tersebut menunjukkan momentum penurunan USD/IDR masih bertahan, tetapi potensi rebound teknis mulai meningkat ketika harga mendekati batas bawah Bollinger Band.

Support terdekat USD/IDR berada di Rp17.500, yang menjadi level psikologis penting untuk menentukan kelanjutan penguatan Rupiah. Penembusan dan penutupan di bawah area tersebut dapat membuka jalan menuju Rp17.410 terendah 12 Mei. Sebaliknya, jika Rp17.500 bertahan, USD/IDR berpeluang rebound menuju level angka bulat terdekat Rp17.600, kemudian area Rp17.688–Rp17.710, MA dan batas tengah Bollinger. Resistance berikutnya berada di sekitar Rp17.770, area yang membatasi pergerakan pada 27 Agustus–3 September.

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Franc Swiss mengembalikan kenaikan, tetapi Dolar AS kesulitan menjelang data Inflasi yang akan dirilis

Franc Swiss (CHF) telah mengembalikan kenaikan harian sebelumnya terhadap Dolar AS (USD) dalam sesi perdagangan yang tenang pada hari Kamis, karena pasangan mata uang USD/CHF kembali di atas 0,8100, meskipun masih berada di tengah kisaran perdagangan mingguan.
了解更多 Previous

Prakiraan Harga USD/JPY: Diperdagangkan di atas 153,50 menjelang inflasi AS; bias bearish tetap ada

Pasangan mata uang USD/JPY berayun antara kenaikan yang lesu dan penurunan kecil sepanjang paruh pertama sesi Eropa pada hari Kamis, berkonsolidasi atas kerugian berat terbarunya ke level terendah hampir tujuh bulan, yang disentuh pada awal pekan ini.
了解更多 Next