USD/IDR: Rupiah Tangguh di Rp17.500, Dolar Melemah tetapi Brent Sempat Tembus US$100

  • Kurs Rupiah menguat 125 poin atau sekitar 0,71% ke Rp17.500 per Dolar AS dari Rp17.625 pada Selasa..
  • JISDOR Bank Indonesia turun ke Rp17.552 dari Rp17.618, ketika pelemahan Dolar AS dan membaiknya keyakinan konsumen mendukung Rupiah.
  • Brent menembus US$100 per barel akibat eskalasi konflik Timur Tengah, sementara pasar menunggu Penjualan Ritel RI, IHP dan IHK AS menjelang keputusan The Fed.

Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan Rabu dengan pijakan lebih kuat, menyeret turun pasangan mata uang USD/IDR ke Rp17.500 dari Rp17.625 pada Selasa, atau menguat 125 poin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga turun ke Rp17.552 dari Rp17.618. Penguatan Rupiah ditopang pelemahan Dolar AS dan membaiknya sentimen domestik setelah keyakinan konsumen Indonesia meningkat pada Agustus, meski harga minyak yang sempat menembus US$100 per barel tetap menjadi risiko. Perhatian pasar berikutnya beralih ke Penjualan Ritel Indonesia dan IHP (PPI) AS pada Kamis, disusul IHK (CPI) AS pada Jumat menjelang keputusan The Fed.

Dolar AS Tertekan saat Yen Menguat

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 98,75, mendekati level terendah dalam hampir dua pekan. Tekanan terhadap Dolar terutama datang dari penguatan Yen Jepang, yang diperdagangkan sekitar 153,33 per Dolar AS setelah mencapai 152,89 pada Selasa, level terkuat dalam tujuh bulan. Penguatan Yen didorong ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan kembali menaikkan suku bunga serta berkurangnya posisi jual pada mata uang Jepang.

Dari dalam negeri, Analis Doo Financial Lukman Leong, dikutip ANTARA, mengatakan penguatan Rupiah ditopang sentimen domestik yang masih kuat, terutama sejak pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI. Menurutnya, tekanan pada Dolar AS akibat penguatan Yen turut mendukung mata uang Indonesia.

Sentimen domestik mendapat tambahan dukungan setelah BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus naik menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli, tetap berada di zona optimistis di atas 100. Peningkatan tersebut ditopang Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 109,4 dari 107,9, yang mencerminkan persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat menjadi 127,6 dari 125,7, menunjukkan ekspektasi yang lebih kuat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang, termasuk penghasilan, kegiatan usaha, dan ketersediaan lapangan kerja.

Brent Sempat Tembus US$100, Risiko bagi Rupiah Belum Mereda

Di sisi lain, kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko bagi Rupiah. Brent sempat menembus US$100 per barel pada perdagangan Rabu sebelum bergerak di sekitar US$99,80, naik 1,92%, ketika eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah kota di Arab Saudi, serangan AS terhadap kapal tanker Iran, serta aksi balasan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan jalur pengiriman energi di kawasan tersebut.

Lonjakan minyak juga menambah perhatian terhadap prospek inflasi AS ketika imbal hasil Treasury tetap berada di level tinggi. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun mencapai sekitar 4,8%, mendekati level 5%, setelah data tenaga kerja AS yang kuat meningkatkan kembali kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Pasar Menunggu Pejualan Ritel RI, IHP dan IHK AS

Dari dalam negeri, Bank Indonesia dijadwalkan merilis Survei Penjualan Eceran Juli pada Kamis, 10 September. Estimasi sebelumnya menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli diprakirakan mencapai 224,4 atau tumbuh 0,9% secara tahunan, dengan kenaikan terutama ditopang kelompok makanan, minuman dan tembakau. Secara bulanan, penjualan diprakirakan turun 0,3% setelah permintaan kembali normal pasca periode hari besar keagamaan dan libur sekolah.

Pada hari yang sama, perhatian global tertuju pada Indeks Harga Produsen (PPI) AS Agustus, sebelum Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) Agustus dirilis Jumat, 11 September. Data inflasi AS akan menjadi masukan penting bagi ekspektasi kebijakan Federal Reserve menjelang pertemuan 15–16 September, ketika CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin.

Indikator Ekonomi

Penjualan Ritel (Thn/Thn)

Data Penjualan Ritel, dirilis oleh Statistik Indonesia, mewakili total pembelian konsumen dari toko ritel. Ini memberikan informasi berharga tentang pengeluaran konsumen yang merupakan bagian konsumsi dari PDB. Meningkatnya penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Namun, jika kenaikannya lebih besar dari perkiraan, mungkin inflasi.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 03.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: -3%

Sumber:

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.3%

Sebelumnya: 4.7%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Riksbank: Siklus kenaikan terbatas versus ECB – Nomura

Para ahli strategi Nomura memprakirakan bank sentral Swedia, Riksbank, akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap tidak berubah selama sisa 2026 dan hanya akan memberikan satu kenaikan 25 bp ke 2,00% pada awal 2027
了解更多 Previous

Tembaga: Rekor tertinggi didorong oleh ketidakpastian tarif – ING

Tim komoditas ING mencatat Tembaga melonjak ke rekor baru di LME, dengan kontrak berjangka tiga bulan mendekati $14.800/t, karena para pedagang bersiap menghadapi potensi tarif AS atas impor Tembaga olahan.
了解更多 Next