USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.375, Pasar Menimbang Data Domestik dan Risiko Hormuz

  • Rupiah melemah 69,5 poin atau 0,40% ke Rp17.375 per Dolar AS pada perdagangan Senin siang.
  • Data domestik memberi sinyal campuran: inflasi melandai dan surplus dagang membaik, tetapi PMI manufaktur kembali kontraksi.
  • Risiko perang AS-Iran dan ketegangan Selat Hormuz masih membatasi ruang pemulihan Rupiah.

Rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin. Mata uang Garuda melemah 69,5 poin atau 0,40% ke Rp17.375 per Dolar AS menjelang sesi Eropa, setelah dibuka di Rp17.250 dan bergerak dalam rentang harian Rp17.310-Rp17.379,4 per Dolar AS.

Pergerakan ini memperlihatkan tekanan terhadap Rupiah belum mereda, terutama setelah pasangan mata uang USD/IDR naik dari penutupan sebelumnya di Rp17.305. Pasar masih menakar kombinasi risiko eksternal, kebutuhan Dolar AS, serta ruang kebijakan untuk menahan pelemahan lebih lanjut.

Data Domestik Campuran: Inflasi Jinak, Manufaktur Kontraksi

Dari dalam negeri, data yang dirilis Senin, 4 Mei 2026, memberi sinyal yang tidak sepenuhnya searah bagi pasar. PMI Manufaktur S&P Global April turun ke 49,1 dari 50,1, menunjukkan aktivitas pabrik kembali masuk zona kontraksi.

Di sisi harga, tekanan inflasi justru mereda. Inflasi tahunan April turun ke 2,42% dari 3,48%, sementara inflasi inti melandai ke 2,44% dari 2,52%. Secara bulanan, inflasi juga turun ke 0,13% dari 0,41%, memberi ruang bagi narasi stabilitas harga domestik.

Namun, gambaran eksternal belum sepenuhnya kuat. Neraca perdagangan Maret mencatat surplus lebih besar, yakni US$3,2 miliar dari sebelumnya US$1,28 miliar. Meski demikian, ekspor terkontraksi 3,1% YoY setelah sebelumnya tumbuh 1,01%, sementara impor hanya naik 1,51% YoY dari 10,85% pada bulan sebelumnya. Perlambatan impor dapat mencerminkan normalisasi kebutuhan barang impor, tetapi juga berpotensi mengisyaratkan permintaan domestik yang lebih hati-hati. Kedatangan turis asing tumbuh 10,50% YoY, melambat dari 13,37%.

Risiko Hormuz Masih Menahan Pemulihan Rupiah

Tekanan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang membayangi Rupiah. Meski gencatan senjata AS-Iran masih bertahan, situasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda setelah AS mengumumkan operasi untuk membantu kapal-kapal komersial keluar dari jalur tersebut. Iran memperingatkan langkah itu dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Komando Bersatu militer Iran juga memperingatkan Angkatan Laut AS agar tidak mendekati atau memasuki Selat Hormuz. Teheran menilai tindakan agresif AS hanya akan memperumit situasi dan membahayakan keamanan kapal di Teluk. Iran turut meminta kapal komersial dan tanker tidak bergerak tanpa koordinasi dengan militernya, serta menegaskan akan “merespons dengan keras” setiap ancaman terhadap wilayahnya.

Kondisi ini menjaga harga berjangka minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel. Bagi Indonesia, risiko tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi impor, kebutuhan Dolar AS untuk migas, serta beban fiskal energi.

PDB Indonesia dan Data AS Jadi Fokus Berikutnya

Perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I pada Selasa, 5 Mei 2026. Secara tahunan, Produk Domestik Bruto (PDB) diprakirakan tetap kuat, dengan konsensus di 5,3% YoY, sedikit di bawah realisasi sebelumnya 5,39%.

Namun, secara kuartalan, pasar memprakirakan ekonomi mengalami kontraksi. Konsensus PDB QoQ berada di -0,95% berbalik dari pertumbuhan 0,86% pada kuartal sebelumnya. Data ini penting untuk mengukur daya tahan ekonomi domestik di tengah tekanan Rupiah, pelemahan manufaktur, dan ketidakpastian eksternal.

Dari AS, fokus malam ini tertuju pada Pesanan Pabrik Maret yang diprakirakan naik 0,4% MoM dari sebelumnya 0%, disusul pidato John Williams dari The Fed dan Survei Pinjaman Pejabat Senior Kuartal I. Jika data lebih kuat dan pejabat The Fed kembali menekankan sikap hati-hati terhadap pemangkasan suku bunga, Dolar AS berpotensi tetap tertopang. Sebaliknya, data yang lebih lemah atau sinyal pelonggaran kredit dapat membuka sedikit ruang pemulihan bagi Rupiah, meski sentimen utama masih dibayangi risiko Hormuz dan harga minyak tinggi.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.

Manufacturing PMI Sweden April Tumbuh dari Sebelumnya 56.3 ke 57.2

Manufacturing PMI Sweden April Tumbuh dari Sebelumnya 56.3 ke 57.2
了解更多 Previous

Brent: Penurunan bulanan besar setelah ketakutan Hormuz – UOB

Para ahli strategi UOB mencatat bahwa minyak mentah Brent baru saja mencatat penurunan persentase bulanan terbesar sejak Desember 2025, meskipun sempat melonjak di atas 126,00 USD/barel karena kekhawatiran baru di Selat Hormuz.
了解更多 Next