USD/IDR: Rupiah Tembus Rekor Lemah Baru, Pasar Pantau Data PCE AS setelah The Fed Tahan Suku Bunga

  • Rupiah melemah 0,71% ke Rp17.385 per Dolar AS pada akhir sesi Asia Kamis, bergerak dekat area terlemah harian Rp17.390.
  • Tekanan datang dari lonjakan harga minyak, sikap The Fed yang masih hati-hati, serta kekhawatiran terhadap inflasi impor, kebutuhan valas energi, dan beban subsidi.
  • Pasar kini menunggu data PCE AS, PDB Kuartal I, Klaim Tunjangan Pengangguran, dan PMI Chicago untuk mengukur arah suku bunga The Fed dan ruang pemulihan Rupiah.

Rupiah memasuki akhir April dalam posisi rapuh setelah kembali mencetak rekor pelemahan baru. Pada akhir sesi Asia Kamis, mata uang domestik melemah 123 poin atau 0,71% ke Rp17.385 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.273-Rp17.390. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah belum mereda, terutama setelah USD/IDR naik dari penutupan sebelumnya di Rp17.261, menandakan pasar masih mempertahankan posisi defensif terhadap aset Rupiah di tengah kuatnya permintaan Dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran eksternal.

Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan pada Rabu, ketika kurs spot ditutup di Rp17.326 per Dolar AS, sementara JISDOR Bank Indonesia naik ke Rp17.324. Posisi ini menandai tekanan yang semakin dalam terhadap Rupiah, sekaligus mempertegas bahwa ruang pemulihan mata uang domestik masih terbatas di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang belum bersahabat.

Dari sisi eksternal, beban utama datang dari lonjakan harga minyak dan sikap The Fed yang belum membuka ruang pelonggaran. Brent naik tajam ke sekitar US$123,37 per barel, sementara WTI bergerak ke US$109,29 per barel, setelah laporan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan opsi militer untuk memecah kebuntuan negosiasi dengan Iran. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi impor, kebutuhan Dolar AS untuk impor migas, serta risiko tambahan bagi beban subsidi energi Indonesia.

Rupiah Masih Sulit Pulih meski Dinilai Terlalu Lemah

Proyeksi analis juga menunjukkan Rupiah masih berada dalam fase rentan. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dikutip Antara, Rupiah diprakirakan bergerak di kisaran Rp17.275-Rp17.400 per Dolar AS. Tekanan terutama berasal dari hasil FOMC yang dibaca lebih hawkish, kenaikan imbal hasil US Treasury dan SBN, serta kekhawatiran terhadap inflasi akibat harga minyak. Senada, Lukman Leong dari Doo Financial Futures, dikutip Kontan, memproyeksikan Rupiah berada di rentang Rp17.250-Rp17.400, kecuali muncul katalis positif dari meredanya tensi Timur Tengah atau sinyal The Fed yang lebih dovish dari prakiraan.

Meski demikian, Bloomberg Technoz melaporkan bahwa sebagian analis menilai pelemahan Rupiah sudah melampaui nilai fundamentalnya. Josua memprakirakan nilai wajar Rupiah berada di sekitar Rp16.500-Rp16.800 per Dolar AS jika premi risiko global turut diperhitungkan. Namun, kondisi undervalued belum otomatis mendorong pemulihan karena pasar masih menimbang tekanan harga minyak, kebutuhan valas untuk energi, risiko subsidi, dan kekhawatiran terhadap fiskal domestik.

Sinyal Hati-Hati The Fed Masih Menjaga Dolar AS Tetap Kuat

Dari sisi moneter global, The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75%, sesuai ekspektasi, tetapi pesan kebijakannya tetap bernada hati-hati. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan belum ada anggota komite yang mendorong kenaikan suku bunga, namun standar untuk pelonggaran kini lebih tinggi karena inflasi masih “tinggi”, terutama akibat tekanan harga energi dan kenaikan ekspektasi inflasi jangka pendek. Bagi Rupiah, sinyal ini kurang bersahabat karena peluang pemangkasan suku bunga AS berpotensi tertunda, sehingga daya tarik Dolar AS tetap terjaga.

PCE dan PDB AS Jadi Fokus, Rupiah Masih Rentan terhadap Dolar

Pasar selanjutnya akan mencermati rangkaian data ekonomi AS yang dirilis malam ini. Fokus utama tertuju pada Indeks Harga PCE Maret yang diprakirakan naik 0,7% secara bulanan dan 3,5% secara tahunan, lebih tinggi dari periode sebelumnya masing-masing 0,4% dan 2,8%. Sementara itu, PCE inti diprakirakan naik 0,3% bulanan dan 3,2% tahunan, dengan belanja pribadi diproyeksikan tumbuh 0,9% dan pendapatan perorangan 0,3%.

Selain inflasi, pasar juga akan menilai estimasi awal PDB AS Kuartal I yang diprakirakan tumbuh 2,3%, Klaim Tunjangan Pengangguran awal di 215 ribu, serta PMI Chicago yang diprakirakan naik tipis ke 53. Jika data inflasi dan konsumsi kembali kuat, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat makin tertunda. Kondisi ini berisiko menjaga Dolar AS tetap dominan dan memperpanjang tekanan terhadap Rupiah dalam jangka pendek.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)

Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Apr 30, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3.2%

Sebelumnya: 3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.



EUR: ECB Diperkirakan Tetap Stabil Sebelum Kenaikan Suku Bunga Musim Panas – Danske Bank

Tim Riset Danske memprakirakan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) akan mempertahankan suku bunga deposito di 2,00% sambil tetap membuka peluang untuk pengetatan musim panas. Bank ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juni dan Juli serta melihat Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (Harmonized Indices of Consumer Prices/HICP) Zona Euro berada di kisaran 2,8–2,9% secara tahunan, dengan inti inflasi yang melunak.
Read more Previous

Nonfarm Payrolls (QoQ) France 1Q di Bawah Prakiraan 0%: Aktual (-0.1%)

Nonfarm Payrolls (QoQ) France 1Q di Bawah Prakiraan 0%: Aktual (-0.1%)
Read more Next